Pages

Thursday, May 7, 2015

Misteri Kutukan William Shakespeare

Wiliam Shakespeare
Tidak hanya kariyanya yang fenomenal, bahkan sampai kematiannyapun penuh dengan misteri kutukan yang ia tinggalkan. Dialah William Shakespeare yang lahir di Stratford upon Avon, Warwickshire, Inggris, tanggal 26 April 1564 dan meninggal di Stratford upon Avon, Warwickshire, Inggris, 23 April 1616 pada umur 51 tahun. Ia adalah seorang penulis asal Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi yang lain. Ia menulis antara tahun 1585 sampai 1613 dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa di dunia dan dipentaskan di panggung lebih daripada semua penulis sandiwara yang lain. 

Shakespeare sudah menduga dan memperkirakan betul bagaimana perilaku keserakahan manusia dimasa yang akan datang. Karena itu Shakespeare sudah menyiapkan sebuah kutukan untuk melindungi dirinya disaat ia sudah tidak bisa melindungi dirinya sendiri (sudah meninggal). Konon kutukan yang diukir pada kuburannya inilah yang telah menyelamatkan kerangkanya dari penggalian. 

Penggalian tulang orang mati biasa terjadi pada masa itu, baik untuk tujuan keagamaan atau penelitian. Kerangka yang ditemukan seringkali diangkat untuk memberi jalan bagi kuburan lain dan ditimbun di tempat penimbunan tanah atau bahkan digunakan sebagai pupuk. 

Melihat fakta itu, dramawan Inggris tersebut menjadi sangat khawatir jika nanti ia telah meninggal peristiwa semacam itu akan terjadi pada kerangkanya sendiri sehingga dia meminta dituliskan sebuah kutukan pada makamnya yang terletak di Holy Trinity Church, Stratford on Avon, sebagai peringatan bagi penggali kubur. 

“Good frend for Jesus sake forebeare, To digg the dust encloased heare; Bleste be the man that spares thes stones, And curst be he that moves my bones,” demikian tulisan yang terpatri di makam penulis The Four Tragedies tersebut. Kalimat kutukan terlihat di kalimat terakhir “And curst be he that moves my bones” (“Dan terkutuklah dia yang memindahkan tulang-tulangku”). 

Dr. Philip Schwyzer, dosen senior di Exeter University, berkata, “Shakespeare memiliki obsesi yang tak biasa dengan pemakaman dan kekhawatiran bahwa kuburannya akan digali orang. Prasasti keras di batu nisan setidak ikut bertanggung jawab atas kenyataan bahwa tidak ada proyek yang berhasil untuk membuka kuburan itu.” 

Schwyzer, yang menyelidiki gagasan dalam buku baru “Archeologies of English Renaissance Literature”, menambahkan, “Tulisan di batu nisannya menandai pernyataan terakhirnya yang tak kenal kompromi mengenai pendapat yang memenuhi pikirannya sepanjang karirnya sebagai penulis drama.” 

Mimpi buruk pribadi digambarkan dalam karya seperti Hamlet, Romeo and Juliet dan Richard III. Kecemasan mengenai perlakuan buruk atau penggalian mayat ditemukan di setidaknya 16 dari 37 drama. Dari sana terlihat keprihatinan ini seringkali terlihat dibandingkan dengan kekhawatiran mengenai kematian itu sendiri. (dari berbagai sumber)

0 komentar:

Post a Comment